点评:Menghabiskan waktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan penuh di Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, memberikan saya dan teman-teman ikatan emosional yang begitu kuat dengan destinasi ini. Bagaimana tidak, ritme hidup kami selama sebulan membuat kami bolak-balik—bahkan hampir tiap minggu berkunjung ke Air Terjun Coban Jahe. Coban ini merupakan salah satu bentuk nature tourism dan wisata alam unggulan di kawasan regional Malang Raya. Semakin sering kami ke sana, semakin tumbuh rasa keterikatan yang mendalam dengan tempat ini (place attachment).
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika kami mendapat kesempatan mendampingi mahasiswa internasional yang berkunjung ke posko kami, lalu bersama-sama mengeksplorasi keindahan Coban Jahe selama sehari penuh. Perjalanan menuju ke sana sudah menjadi bagian dari cerita rutinitas kami. Harus diakui, dengan harga tiket masuk yang sangat ramah di kantong yakni hanya Rp12.000 per orang, akses jalan menuju ke lokasi tergolong cukup menantang dengan kondisi yang agak rusak dan berbatu. Hal ini merupakan sebuah bentuk tantangan operasional yang memerlukan perhatian serius dari Destination Management Organization (DMO) setempat. Namun, hambatan fisik di sepanjang jalan tersebut justru kian akrab kami lalui seiring berjalannya waktu, dan selalu terbayar lunas begitu tiba di kawasan air terjun.
Suasana di Coban Jahe selalu berhasil menyegarkan pikiran. Kita akan disambut rimbunnya pepohonan, aliran sungai jernih berbatu, serta deburan air terjun setinggi sekitar 45 meter yang menciptakan kabut tipis alami. Di sana kami bertukar cerita dengan mahasiswa asing, hingga memperkenalkan kearifan lokal Malang yang kami kenali selama sebulan tinggal di sana.
Lebih dari sekadar wisata alam, Coban Jahe menyimpan narasi sejarah yang menyentuh, menjadikannya bagian dari heritage tourism yang bernilai tinggi karena menghubungkan pengunjung kembali dengan dimensi masa lalu (reconnect to the place, time, cultural, and tradition).
Meskipun bernama Jahe, pengunjung tentu tidak akan menemukan kebun tanaman bumbu dapur di sini. Nama tersebut berasal dari kata ‘pejahe’—atau ‘pejah’ dalam bahasa Jawa yang berarti meninggal dunia. Aliran Kali Jahe yang menjadi sumber air di kawasan ini tak bisa dilepaskan dari kisah perlawanan sengit Ali Murtopo bersama para pejuang melawan penjajah Belanda, yang menyebabkan banyak pejuang gugur di medan pertempuran. Lambat laun, pelafalan tersebut bergeser menjadi Coban Jahe yang dikenal hingga kini. Narasi historis ini terasa semakin nyata karena sekitar 100 meter dari pintu masuk, tepatnya di area Taman Makam Pahlawan Kali Jahe, bersemayam para pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut. Kisah inilah yang kami sampaikan secara langsung kepada teman-teman asing, menjadikan destinasi ini mampu merangkul wisatawan untuk merasakan kedekatan emosional, keaslian (authenticity), sejarah, dan pelestarian lingkungan dalam satu pengalaman yang utuh.
翻译:在马朗县贾邦区潘丹萨里洛尔村的贝加万屯,我们度过了整整一个月的社会实践时间。这段经历让我和同学们与这个地方建立了极其深厚的情感联结。毕竟,这一个月里我们几乎每周都会往返于此——频繁到几乎每周都要去参观科班贾赫瀑布。该瀑布是马朗大区最具代表性的自然旅游景点之一。我们去那里的次数越多,对这个地方的深厚依恋感(place attachment)便愈发强烈。
最难忘的时刻之一,就是我们有机会陪同前来参观我们站点的国际学生,一起花一整天的时间探索科班贾赫的美丽风光。这段旅程已然成了我们日常生活的一部分。必须承认,这里的门票价格十分亲民,仅需12印尼盾而已。每人费用约为000,通往景点的道路状况相当恶劣,路面破损且多石。这对当地的目的地管理机构(DMO)而言是一项严峻的运营挑战,需要予以高度重视。不过,随着时间的推移,这些路面上的物理障碍对我们来说也越来越习以为常了,而每当抵达瀑布区时,这一切付出也都得到了回报。
科班贾赫的氛围总能让人心旷神怡。迎接我们的是茂密的树林、清澈见底的细石溪流,以及落差约45米、激起天然薄雾的瀑布。在那里,我们与外国留学生畅谈,还介绍了我们在玛琅生活一个月期间所了解到的当地风土人情。
科班贾赫不仅仅是个自然景区,它还承载着感人至深的历史故事。它因此成为极具价值的遗产旅游项目的一部分,因为它能让游客重新与过去的时空、文化及传统产生联系。
虽然名为“Jahe”,但游客在这里肯定找不到任何香料植物园。这个名字源自爪哇语中的“pejahe”或“pejah”,意为“死亡”。作为该地区水源的卡利贾赫溪流,与阿里·穆尔托波率领战士们抗击荷兰殖民者的激烈斗争密不可分,那场战斗致使众多战士壮烈牺牲。随着时间的推移,其名称逐渐演变成了如今为人熟知的“科班贾赫”。这段历史叙事因入口处约100米远的地方——即卡利贾赫英雄陵园所在区域——而显得愈发真实可感。那里安息着在战斗中牺牲的英雄们。正是这个故事,我们直接讲述给外国朋友们听,使得这一目的地能够让游客在一次完整的体验中感受到情感上的亲近、真实性、历史底蕴以及环境保护的重要性。